“Bayangkan, layar dibuka dengan seorang ibu tua renta menyeret tubuh seorang wanita di halaman rumah besar yang sunyi. Hujan rintik-rintik jatuh, menambah dinginnya suasana. Kamera menyorot dari atas, memperlihatkan betapa berat langkah sang ibu. Tiba-tiba, sesosok mayat jatuh dengan pisau tertancap di dadanya. Anehnya, sang ibu tidak bergeming—ia terus berusaha menyeret tubuh wanita itu masuk ke dalam rumah tua yang menyimpan rahasia kelam.”
Dua adegan awal inilah yang langsung membuat saya terkesima saat menonton Sukma (2025) di layar lebar. Sensasi mencekam itu seperti menempel di kepala, membuka jalan menuju horor psikologis penuh misteri. Tidak heran, saat saya menonton, film garapan Baim Wong ini sudah berhasil menembus jumlah penonton yang mengesankan.
Dikutip dari Official Instragram @FILM SUKMA hingga hari ke-9 penayangannya, film Sukma telah menembus angka sekitar 636.778 penonton.
Kala menonton film SUKMA, Saya tidak kebagian Undangan gala Premier ataupun cinema Visit di Film Sukma (2025). Tapi saya berkesempatan NONTON NOBAR (wk wk wk, Parah, udah nonton, nobar pula. Jadi Double artinya. 🤭🤣), bersama teman-teman Mata Sinema Indonesia wilayah Jakarta Selatan. Saya berkesempatan nonton di Gandari City, Sabtu 20 September 2025.

Film horor terbaru garapan Baim Wong ini tidak hanya menjual ketakutan lewat visual yang menyeramkan, tetapi juga membangun atmosfer psikologis yang pekat dengan drama keluarga, rahasia masa lalu, dan teror supranatural yang sulit dilupakan.
Adegan awal inilah yang langsung memancing adrenalin penonton Sukma (2025), film horor psikologis terbaru garapan Baim Wong. Dengan atmosfer mencekam, drama keluarga yang intens, serta akting kuat dari Luna Maya, Christine Hakim, Fedi Nuril, Krishna Keitaro, Oka Antara, Kimberly Ryder, hingga Asri Welas, film ini mencoba membawa horor Indonesia ke level yang lebih berlapis: bukan sekadar teriakan ketakutan, melainkan juga luka batin yang menghantui.
Sukma (2025) menjadi salah satu film horor Indonesia yang paling banyak diperbincangkan tahun ini. Disutradarai sekaligus diproduseri oleh Baim Wong, film berdurasi 108 menit ini menampilkan deretan aktor papan atas: Luna Maya, Christine Hakim, Fedi Nuril, Oka Antara, Kimberly Ryder, hingga Asri Welas. Sejak tayang perdana pada 11 September 2025, Sukma langsung menarik perhatian berkat premisnya yang menggabungkan horor supernatural dengan drama keluarga dan kritik sosial.
Kisah Singkat
Arini (Luna Maya) dan keluarganya pindah ke sebuah rumah tua untuk memulai hidup baru. Namun, ketenangan itu terusik ketika mereka menemukan sebuah cermin kuno tersembunyi. Alih-alih hanya menjadi benda antik, cermin itu menyimpan kekuatan gelap yang mampu menukar jiwa dan mengungkap masa lalu kelam penghuninya.
Seiring teror semakin intens, Arini tidak hanya dihadapkan pada bayangan menyeramkan dari cermin tersebut, tapi juga pada luka batin dan trauma lama bersama mantan suaminya, Hendra (Fedi Nuril). Sementara itu, sosok Ibu Sri (Christine Hakim) hadir dengan aura misterius yang mempertegas suasana horor dan menambah ketegangan.
Peran Asri Welas: Penyegar di Tengah Ketegangan
Salah satu kejutan menarik dari Sukma adalah kehadiran Asri Welas. Dikenal luas sebagai aktris komedi, kali ini ia tampil dalam nuansa berbeda. Asri memerankan karakter teman sekaligus buyer dari Arini yang sering membesan pakaian kesukaannya. Kali Ini Asri Welas tampil Lucu sekaligus sexy. Tumben sih sexynya yang diperlihatkan, bukan lucunya.
Walau porsinya tidak sebesar tokoh utama, peran Asri cukup vital:
- Ia menjadi muncul ga terlalu lama tapi membawa suasana mencekam, lucu dan menggemaskan.
- Dengan gaya khasnya, Asri menghadirkan sentuhan humor ringan di beberapa adegan, yang secara cerdas mengendurkan ketegangan sebelum kembali naik ke puncak horor.
- Di sisi lain, Asri juga menunjukkan kemampuan akting dramatis yang jarang terlihat dari film-filmnya sebelumnya. Wajah cemas dan dialognya saat memperingatkan Arini memberi warna serius pada karakter yang ia mainkan.
Penampilan Asri bisa dibilang menjadi scene stealer di beberapa momen, karena berhasil menghadirkan keseimbangan antara horor, drama, dan lucu. Sedikit kehangatan manusiawi yang membuat penonton tidak terhanyut sepenuhnya dalam kegelapan cerita.
Iyan: Anak Kecil dengan Peranan Besar
Meski masih anak-anak, Iyan yang diperankan oleh Krishna Keitaro justru hadir sebagai salah satu elemen penting dalam Sukma. Ia bukan sekadar pelengkap cerita, melainkan penggerak emosional yang membuat penonton semakin larut dalam teror yang dialami keluarga Arini.
Lewat sorot mata polos dan ekspresi ketakutan yang natural, Iyan menjadi representasi paling jujur dari rasa takut. Kehadirannya mengingatkan bahwa kengerian bukan hanya menghantui orang dewasa, tetapi juga merobek rasa aman seorang anak kecil.
Salah satu adegan paling membekas adalah ketika Iyan belajar menggunakan ketapel. Sekilas terlihat sederhana, bahkan seperti pengisi jeda di tengah ketegangan. Namun justru momen inilah yang menjadi cerita kunci, karena kelak ketapel itu berperan penting dalam menghadapi situasi kritis. Adegan kecil itu menyimpan simbol: keberanian bisa lahir dari kepolosan, dan kadang senjata sederhana mampu mengubah arah takdir.
Dengan porsi terbatas, Iyan berhasil menjadi tokoh yang memberi napas segar, sekaligus menghadirkan titik balik penting dalam alur cerita Sukma.
Kimberly Rider: Pembawa Kunci Rahasia
Lewat perannya, Kimberly Rider hadir sebagai sosok misterius yang memegang kunci perjalanan Arini. Ia memang tidak sering muncul, tetapi setiap detiknya terasa menentukan. Tatapan, ucapan, hingga pemberian penting darinya menjadi titik balik yang mengubah arah cerita Sukma.
Horor dengan Lapisan Emosional
Berbeda dengan horor Indonesia pada umumnya yang mengandalkan jump scare, Sukma mencoba menghadirkan horor psikologis yang lebih dalam. Cermin kuno di film ini bukan sekadar medium mistis, tetapi juga simbol dari obsesi manusia terhadap kecantikan, ketakutan akan menua, serta beban masa lalu yang tak bisa dihapus.
Kehadirannya menegaskan bahwa Sukma bukan hanya soal teror, melainkan juga tentang hubungan yang dilandasi cinta abadi — cinta yang indah sekaligus menyesatkan. Dari tangannya, sebuah rahasia diserahkan. Sejak saat itu, Arini perlahan mencoba memecahkan teka-teki, hingga akhirnya mulai kembali membuka hati untuk percaya pada Hendra, mantan suaminya.
Luna Maya sukses memerankan Arini sebagai seorang ibu yang rapuh namun berusaha tegar, sementara Christine Hakim mencuri perhatian dengan karisma dingin sekaligus menakutkan. Akting mereka membuat drama keluarga terasa hidup dan menjadi lapisan emosional yang memperkaya cerita.
Kesimpulan
Sukma adalah film horor Indonesia yang berani tampil berbeda dengan menambahkan lapisan psikologis dan drama emosional di balik teror supranaturalnya. Film ini tetap layak ditonton terutama bagi pecinta horor yang mencari cerita dengan makna lebih dalam.
Dengan atmosfer mencekam, akting yang kuat, serta tema relevan tentang kecantikan, usia, dan trauma, Sukma bisa dibilang berhasil menjadi salah satu horor psikologis lokal yang patut diapresiasi.
Sukma bukan sekadar horor yang bikin kaget. Ia menyuguhkan teror yang dibalut cinta abadi, misteri yang menyesatkan, dan pilihan-pilihan sulit yang harus dihadapi Arini. Dengan atmosfer mencekam, karakter yang hidup, dan rahasia yang terus bergulir, film ini meninggalkan kesan bahwa kadang yang paling menakutkan bukanlah hantu, melainkan manusia yang terjebak dalam ambisi dan cinta yang salah arah.
Sukma jelas bukan horor biasa. Cocok untuk penikmat horor psikologis dengan nuansa misteri dan drama keluarga yang kuat, tapi mungkin terasa berat bagi yang hanya mencari jumpscare instan.
“Apakah Sukma hanyalah horor, atau justru kisah cinta indah yang menyesatkan? Bagikan pendapatmu setelah menontonnya!”
✨ “Berani Bercermin? 🪞 Sukma Menantang Nyali Anda di Bioskop!” ✨
(review By inJun. Email: desain.injun@gmail.com)
