Illustrious GERDI WK. – 55 Tahun berkarya, “Mengalir Dalam Garis”.
Pengantar Pameran
Illustrious GERDI W.K. – Mengalir Dalam Garis

Illustrious
/ɪˈlʌs.tɹɪ.əs/
Dari Latin illūstris “bright, shining; distinguished, prominent, illustrious” : cemerlang; terkemuka, termasyhur. Waktu tak pernah diam, dan gambar tak pernah mati. Gambar sebagai Seni boleh saja tak lekang oleh waktu, namun Gambar sebagai ilustrasi dapat berubah mengikuti tren seiring dengan waktu. Di antara keduanya, Gerdi WK mengalir bersama waktu menjelma menjadi penggambar—sang perangkai garis dan bentuk, yang meniti lembut di antara ruang dan zaman. Gerdi Wirata Kusuma yang kelahiran
13 April 1953 di Ciamis, bukan sekadar pembuat ilustrasi, melainkan telah mengukir jejak pada lembar waktu sepanjang lima dekade lebih, menghidupkan narasi lewat goresan dan warna melalui karya-karya ilustrasinya. Dalam pameran ini, khalayak tak hanya diajak melihat karya. Kita diajak mewaktu—mengalir bersama sang ilustrator dalam pusaran kenangan, perjalanan karir, dan renungan yang tercetak abadi dalam setiap ilustrasi. Ini bukan sekadar pameran gambar. Ini adalah perjalanan menembus batas waktu, menuju ruang di mana rupa menjadi bahasa jiwa, di dalam dunia ilustrasi Gerdi WK.

Illustrasi di antara keheningan dan gema.
Telah lebih dari lima dekade Gerdi WK menekuni ilustrasi sebagai jalan sunyi, namun nyaring. Karyanya terbit di banyak media, mungkin terpajang di banyak ruang, dan telah tumbuh secara diam-diam dalam banyak hati penggemarnya. Menggambar bukan hanya untuk dilihat, tapi untuk dirasakan, sebuah ilustrasi adalah puisi bisu—yang berbicara kepada jiwa tanpa suara, namun menggema dalam benak selamanya. Menggambar itu seperti mendengarkan aliran waktu. Setiap garis punya suara, dan Gerdi mencoba menangkap bisikan waktu lewat tangan, ia tidak hanya menggambar bentuk, tetapi juga menggambar keheningan, menggambar ingatan, menggambar gema dari waktu yang terus berjalan, sehingga di usia senja pun Gerdi masih terus menghasilkan karya-karya dari tangannya. Ilustrasi tak hanya sekadar bentuk belaka; ia adalah cerita yang terpendam di antara garis, yang menunggu ditemukan oleh mata yang sabar dan hati yang terbuka. Beberapa pemerhatian awal pada gaya ilustrasi Gerdi adalah adanya garis-garis dalam ilustrasi cenderung rapi dan presisi, menunjukkan ketelitian dalam anatomi karakter dan pelukisan elemen latar. Kemudian adanya dinamika pose dan ekspresi gestural yang khas, disertai permainan arsiran pena dan kuas dengan penguasaan kontras antara hitam dan putih yang digunakannya bagi menambahkan dimensi dalam gambar ilustrasinya.

Seandainya kita mengaitkan gerak-gerik karakter tokoh-tokoh manusiawi dalam ilustrasinya, seringkali Ia tampak menggunakan garis-garis yang mengalir dan lengkungan yang lembut dimana kita temui lekuk dan gerak bak penari tarian tradisional. Hal ini memberikan kesan bahwa setiap karakter memiliki dinamika yang alami dan ritmis. Gerakan yang halus dan ekspresif yang mampu menyampaikan emosi dan cerita dengan cara yang lebih puitis. Mengemukanya unsur gerak liuk khas tarian seolah-olah menggambarkan drama kehidupan, yang dalam karya-karya Gerdi seolah menyuntikkan identitas dan kearifan lokal, menghubungkan seni gambar ilustrasi dengan tradisi budaya Indonesia, sebagai perpaduan antara teknik realis pengaruh Eropa dan sensibilitas lokal.

Hal ini memberikan pemahaman pada kita bahwa karyanya tidak hanya tentang menghadirkan aksi, melainkan juga mengekspresikan keindahan dan keunikan budaya melalui tiap lekukan dan gerak tubuh karakter dengan “gerak liris”. Istilah ini berupaya menonjolkan keanggunan, fluiditas, dan ekspresi emosional yang mengalir seperti tarian tradisional, yang berbeda dengan kesan dramatis dan eksplosif dari aksi heroik sinematik. Gaya liris ini mencerminkan pergerakan yang lebih halus dan puitis, seolah-olah karakter dan objek gambar sedang menari, sehingga terkesan menimbulkan hadirnya nuansa budaya dan keindahan estetika yang membuka kemungkinan bagi ruang peresapan yang lebih mendalam. Demikian boleh dikatakan salah satu karakteristik khas identitas Gerdi yang mewarnai ciri-ciri beragam karya ilustrasi yang ada di Indonesia.

Pelukis seyogyanya “membawa serta tubuhnya,” kata Paul Valéry, sang penyair Perancis berucap.
“Tak dapat kita bayangkan bagaimana pikiran bisa melukis tanpa meminjamkan tubuhnya kepada dunia, demikianlah bagaimana seniman perupa mengubah dunia menjadi lukisan” ungkap filsuf Maurice Merleau-Ponty, meminjam pandangannya bahwa,”Lukisan tidak mengimitasi dunia, tetapi justru menciptakan dunianya sendiri yang independen,” demikian yang dapat dikatakan bagi seorang Gerdi dalam melukiskan dunianya. Untuk memahami transubstansiasi ini, kita harus kembali pada tubuh yang aktual bekerja, tubuh yang merupakan jalinan visi dan gerakan. Sebelum menjadi sebuah lukisan, lembaran kertas gambar putih adalah tablo kosong, sebuah bidang kosong yang menanti untuk diisi. Maka gerakan fisik pelukis secara bertahapan mengisi kekosongan tersebut dengan tanda penanda yang kemudian membentuk rupa menjadi sesuatu yang dapat dikenali – entah itu wajah, gelas dan mangkuk, tanaman dan gunung, dan atau sekedar abstraksi rupa yang menarik. Inilah momen yang luar biasa di mana berawal dari tatapan pelukis yang beralih kepada gerakan fisik kemudian memunculkan dirinya menjadi gambar ilustrasi, menjadikan lembaran kertas kosong tadi terisi oleh hal-hal yang memiliki kehidupan visual dan memberi makna bagi kita pelihatnya. Dalam momen penuh keajaiban itulah – yang dinamakan transubstansiasi, rangkaian mata dan pikiran – disitulah letak dimana kebermaknaan gambar ilustrasi atau lukisan menempatkan dirinya.

Halmana yang mendunia ini tampak dalam ilustrasinya Gerdi yang menggambarkan skena keseharian dengan pendekatan realistis tanpa umbaran elemen aksi atau dramatisasi berlebihan. Ia banyak berfokus pada ekspresi emosional, suasana, dan nuansa alur cerita. Penggambaran interaksi sosial, kehidupan sehari-hari, atau situasinya terbaca lebih reflektif. Sebagian mungkin merasakan hadirnya unsur humor, atau penggambaran tokoh dengan gestur dan ekspresi yang lebih eksentrik.

Mengalir, Menyatu, Menjejak.
Pada pameran ini kita diajak menyelami beragam fase kehidupan Gerdi dalam menggambar ilustrasi. Mulai dari karya-karya awalnya yang masih bersahaja, namun penuh semangat menjelajah, hingga karya yang matang dan kompleks, yang merefleksikan misalnya pertemuan antara teknik tinggi dan perenungan batin. Mengalir Dalam Garis adalah ajakan untuk menyatu dengan karya, untuk membiarkan diri hanyut dalam arus visual yang menggetarkan. Ilustrasi Gerdi tidak mengarahkan kita dengan paksaan, ia mengajak kita menyusuri gambar-gambarnya dengan bebas, merasakan getarannya, dan menemukan kembali makna bagi diri kita sendiri. Dalam pameran ini, ia tidak hadir hanya sebagai ilustrator, melainkan sebagai penyair visual—yang menggubah waktu ke dalam warna dan bentuk, mengajak kita mengalir dalam garis, menyusuri lorong-lorong imaji kebermaknaan cerita dan kisah-kisah.


Beberapa karya dalam pameran ini bersifat personal, merekam berbagai fragmen hidup dan
kerja-kerja sang ilustrator. Beberapa lainnya menyiratkan refleksi bersifat sosial, merespons zaman, menyoal kemanusiaan, dan merangkul harapan. Pameran ini bukan sekadar tempat menatap karya. Ia adalah sungai waktu, mengalir dari hulu ke hilir, membawa kita menelusuri lintasan perjalanan sang penggambar. Di setiap sudut, kita diajak untuk berjalan bersama waktu, dari karya muda yang penuh semangat eksplorasi, hingga karya matang yang sarat refleksi dan kedalaman. Kita diajak untuk mewaktu—mengalami aliran dalam dunia ilustrasi Gerdi. Dari ilustrasi editorial yang tajam, komik yang menggelitik, hingga karya personal yang lirih dan intim, semua hadir sebagai fragmen waktu, yang bersama-sama membentuk mosaik jiwa sang illustrator yang di dalam setiap tarikan pena dan gores kuas, waktu seolah berhenti sejenak. Di situlah, dalam kebarangkaliannya kita menemukan karya—sebagai ruang di mana waktu dan jiwa berkelindan. Semuanya boleh dikatakan bersatu dalam suatu semangat: menggambar sebagai perayaan waktu.


Akhirul Kata: Mewaktu Bersama Gerdi WK
Pameran ini adalah ruang untuk mewaktu—sebuah kata yang mungkin tak ada dalam kamus, tapi terasa dalam hati. Kita mewaktu bersama Gerdi WK, bersama gambar-gambarnya yang tak pernah diam. Di antara kanvas dan pikiran, antara garis dan kenangan, kita menemukan bahwa ilustrasi bukan hanya gambar, tetapi jejak manusia dalam ruang waktu. Mengalir Bersama Waktu adalah undangan untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam, dan melihat dunia lewat mata sang ilustrator. Sebab waktu, pada akhirnya, adalah sesuatu yang kita bawa dalam diri—dan ilustrasi adalah cermin tempat kita menatap waktu yang telah, sedang, dan akan berjalan. Setelah melalui sekian dekade dalam berkarya dapat disimpulkan bahwa gaya ilustrasi beliau mungkin lebih cenderung ke realisme ekspresif dengan nuansa naratif. Gerdi WK mengajarkan kita bahwa menggambar bukan hanya soal keterampilan, tapi sebuah laku jiwa. Bahwa ilustrasi bisa menjadi doa visual—yang mengalir dari hati, menembus waktu, dan menyentuh yang melihat. Dalam setiap karya-karya yang dipamerkan, kita menemukan jejak itu: kesungguhan, kejujuran, dan ketekunan.
Penulis: Karna Mustaqim
Layout Artikel: Suryo Nugroho (injun)


